Kebakaran Hutan di Kalimantan Mengancam Kehidupan Satwa Liar dan Kesehatan Warga

Facts, Habits71 Views

Pontianak, 2 Juni 2024 — Kebakaran hutan kembali melanda Kalimantan, menghanguskan ribuan hektar lahan dan menimbulkan kabut asap tebal yang mengancam kesehatan warga dan kehidupan satwa liar. Kebakaran ini dilaporkan terjadi di beberapa titik di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, mengakibatkan kerusakan ekosistem yang signifikan dan memaksa ribuan orang untuk mengungsi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa musim kemarau yang panjang dan kondisi cuaca ekstrem menjadi penyebab utama kebakaran hutan ini. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa kombinasi antara suhu tinggi, kelembaban rendah, dan angin kencang mempercepat penyebaran api. “Kami telah mengeluarkan peringatan dini dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memantau situasi ini secara intensif,” ujar Dwikorita.

Tim pemadam kebakaran, polisi, TNI, dan relawan telah dikerahkan untuk memadamkan api. Namun, upaya tersebut menghadapi berbagai kendala, termasuk medan yang sulit dijangkau dan luasnya area yang terbakar. Helikopter water bombing dan pesawat pengebom air juga digunakan dalam operasi pemadaman ini.

“Kami menghadapi tantangan besar dalam memadamkan kebakaran ini. Akses ke lokasi sangat sulit, dan api cepat menyebar karena angin kencang. Kami terus bekerja keras untuk mengatasi situasi ini,” kata Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto.

Dampak dari kebakaran hutan ini sangat luas. Kabut asap yang dihasilkan telah menyelimuti beberapa kota besar di Kalimantan, seperti Pontianak dan Palangkaraya, mengakibatkan penurunan kualitas udara yang drastis. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di beberapa daerah bahkan mencapai tingkat berbahaya. Sekolah-sekolah terpaksa diliburkan, dan banyak warga mengeluh tentang masalah pernapasan dan iritasi mata.

“Kabut asap ini sangat mengganggu. Setiap hari kami harus mengenakan masker, dan anak-anak tidak bisa bermain di luar. Kami khawatir dengan kesehatan mereka,” kata Siti, seorang warga Pontianak.

Selain itu, kebakaran hutan ini juga mengancam keberadaan satwa liar, termasuk spesies yang terancam punah seperti orangutan dan harimau. Habitat mereka rusak, memaksa satwa-satwa ini keluar dari hutan dan mendekati pemukiman manusia, yang meningkatkan risiko konflik manusia-satwa.

“Kebakaran hutan ini sangat merusak ekosistem. Banyak satwa yang kehilangan tempat tinggalnya dan terpaksa mencari makanan di pemukiman manusia. Ini sangat berbahaya baik bagi satwa maupun manusia,” ujar Budi Santoso, seorang aktivis lingkungan dari WWF Indonesia.

Pemerintah pusat telah menyatakan status darurat dan mengerahkan bantuan tambahan untuk membantu penanganan kebakaran hutan ini. Presiden Joko Widodo dalam pernyataannya menegaskan pentingnya tindakan tegas terhadap pembakaran lahan ilegal dan penguatan upaya pencegahan di masa mendatang. “Kami tidak akan mentolerir pembakaran lahan ilegal. Semua pihak harus bekerja sama untuk mencegah kejadian seperti ini terulang kembali,” kata Presiden.

Masyarakat internasional juga menunjukkan kepeduliannya terhadap kebakaran hutan di Kalimantan. Beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, menawarkan bantuan untuk memadamkan kebakaran dan mengurangi dampak kabut asap yang juga mempengaruhi wilayah mereka.

Kebakaran hutan di Kalimantan menjadi pengingat serius tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan upaya pencegahan yang lebih efektif. Dengan kerjasama yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas internasional, diharapkan bencana seperti ini dapat diatasi dan dicegah di masa depan.

Comment