Perubahan Iklim Ancam Keberlanjutan Pertanian di Indonesia

Media56 Views

Jakarta, 6 Juni 2024 – Perubahan iklim semakin dirasakan dampaknya di Indonesia, terutama dalam sektor pertanian yang menjadi salah satu tulang punggung perekonomian negara. Peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan frekuensi bencana alam yang lebih tinggi menimbulkan tantangan besar bagi para petani dan keberlanjutan produksi pangan nasional.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, dalam sebuah seminar nasional tentang pertanian dan perubahan iklim yang diadakan di Jakarta hari ini, menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi ini. “Perubahan iklim sudah di depan mata dan mempengaruhi produksi pertanian kita. Kita harus mengambil langkah-langkah adaptasi dan mitigasi yang serius untuk memastikan ketahanan pangan kita,” ujar Syahrul.

Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa produksi padi, jagung, dan komoditas utama lainnya mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Curah hujan yang tidak menentu dan suhu yang lebih tinggi mengganggu musim tanam dan panen, sementara banjir dan kekeringan yang lebih sering menghancurkan lahan pertanian.

Prof. Bambang Setiawan, pakar perubahan iklim dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa perubahan iklim mempengaruhi siklus alami yang sebelumnya dapat diandalkan oleh petani. “Pola cuaca yang tidak bisa diprediksi membuat petani kesulitan menentukan waktu tanam dan panen. Ini berdampak langsung pada produktivitas dan hasil pertanian,” kata Prof. Bambang.

Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Pertanian telah meluncurkan sejumlah inisiatif, termasuk pengembangan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim dan peningkatan sistem irigasi yang lebih efisien. Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan teknologi pertanian modern seperti sensor cuaca dan aplikasi prediksi cuaca untuk membantu petani mengambil keputusan yang lebih tepat.

Di lapangan, para petani juga mulai menerapkan praktik-praktik pertanian berkelanjutan. Suryadi, seorang petani padi di Jawa Barat, mengungkapkan bahwa ia dan kelompok taninya telah mulai menggunakan sistem tanam padi organik dan metode pengolahan tanah konservatif. “Kami berharap dengan cara ini, tanaman kami bisa lebih tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem,” ujar Suryadi.

Namun, tantangan utama tetap pada akses dan dukungan finansial. Banyak petani kecil yang tidak memiliki cukup sumber daya untuk berinvestasi dalam teknologi baru atau praktik pertanian berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat memberikan bantuan lebih besar dalam bentuk subsidi, pelatihan, dan akses ke pasar yang lebih baik.

Dalam seminar tersebut, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, juga menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan anggaran pertanian dan memperkuat kerjasama dengan sektor swasta dan organisasi internasional. “Kita harus memastikan bahwa petani kita tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah tantangan perubahan iklim,” tegas Sri Mulyani.

Dengan langkah-langkah kolaboratif dan komprehensif, diharapkan sektor pertanian Indonesia dapat beradaptasi dengan perubahan iklim dan terus menjadi pilar utama ketahanan pangan nasional. Keberhasilan ini tidak hanya penting bagi ekonomi, tetapi juga bagi kesejahteraan jutaan petani dan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.

Comment